RSS

URBAN DESIGN PROJECT

           Lagi males nulis, tapi ada bahan menarik dari tugas kuliah pas semester 5 lalu. tentang Urban Design Project di Shanghai. cekidot :))



LATAR BELAKANG
 

TUJUAN
 
 



BEFORE AND AFTER PROJECT



POTENSI DAN MASALAH




DESAIN STRATEGI










KONSEP PENGEMBANGAN

KESIMPULAN
 

        Dari studi kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa proyek perancangan kota yang berhasil tidak harus proyek yang "WAH", namun proyek tersebut mampu memberikan perubahan yang berarti pada lingkungan sekitarnya dan yang pasti ada manfaat yang jelas terlihat setelah adanya proyek tersebut. <----(Bu Deka) :)

peer

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mutiara Terpendam Di Bumi Gora, Lombok


Udara yang segar dan lingkungan yang belum begitu ramai, menjadikan Lombok sebagai salah satu destinasi wisata saat liburan. Kini Lombok dielu-elukan sebagai destinasi wisata saingan Bali. Meski belum seramai Bali, pulau di Nusa Tenggara Barat ini menyimpan banyak potensi wisata yang tidak boleh dilewatkan. Mulai wisata alam, wisata budaya dan wisata kulinernya. Semua itu menjadikan Lombok sebuah paket lengkap liburan kita.

1.    Menginap di Tanjung Aan
Lupakan dulu Pantai Senggigi karena masih ada pantai-pantai lain yang jauh lebih bagus terutama pantai-pantai di Kabupaten Lombok Tengah. Anda tidak perlu khawatir aksesibilitas  pantai tersebut karena letaknya sejalur dengan Bandara Internasional Lombok (BIL).
Jika anda menginginkan suasana pantai yang lebih privat, Tanjung Aan merupakan pantai yang tepat untuk disinggahi. Lokasi pantai ini kurang lebih 30 menit dari Pantai Kuta Lombok. Jadi, sangat sayang jika sampai terlewatkan saat berkunjung ke Pulau Lombok.
Tidak hanya itu, air laut di kedua pantai tersebut begitu bersih dan jernih khas pantai-pantai di Nusa Tenggara. Keunikan lain di kedua pantai ini adalah bentuk pasirnya tidak lembut seperti pasir pantai pada umumnya namun berbentuk seperti butir-butir merica yang khas yang tidak terdapat di pantai-pantai lainnya. Sepanjang sisi kanan dan kiri Tanjung Aan terdapat bukit-bukit yang menghadang ombak ganas laut selatan sehingga ombak di Tanjung Aan cukup tenang.
 ini dia penampakan pantai tanjung Aan yang T.O.P banget :)

 Pasir merica khas Tanjung Aan 

2.    Trip to Tiga Gili
Masih banyak kegiatan yang bisa lakukan saat berada di Lombok, salah satunya adalah trip tiga Gili. Lombok memang terkenal dengan  tiga pulau wisatanya yang selalu ramai dikunjungi turis, yaitu Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno.
Cobalah berkeliling tiga pulau ini dengan menggunakan kapal. tapi jika dana terbatas, pelesir ke Gili Trawangan sepertinya cukup mewakili dari tiga Gili tersebut. Jika ingin lebih maksimal,  bisa snorkeling atau menyelam langsung di beberapa spot menyelam yang ada di Gili Trawangan.
Trip di tiga pulau ini, Anda tidak hanya bisa menyelam  ke dalam keindahan bawah lautnya, tapi juga menghirup udara paling segar. Tak perlu takut polusi, tiga Gili yang ada di Lombok ini dijamin bebas polusi. Anda tidak akan menemukan kendaraan bermotor satu pun melintas di sini. Turis bisa berkeliling pulau dengan nyamannya.
 water taxis on Gili Trawangan 

 Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Gili Trawangan

 jernih banget airnya, di Jawa mana ada yg sebening ini  :3

 tempat berjemur Mr and Mrs "Bule"

3.    Bersepeda dan naik Cidomo di Tiga Gili
Karena tiga Gili ini tidak memperbolehkan kendaraan bermotor untuk melintas, turis yang datang bisa menggunakan sepeda untuk berkeliling. Biasanya, sepeda disediakan di hampir setiap penginapan di sana. Harga sewa sepeda untuk turis biasanya Rp 20.000/jam namun anda bisa menawar menjadi  Rp 20.000 tapi untuk 3 jam penyewaan. Cukup murah jika anda pintar menawar. J
Rasakan sensasi berkeliling menggunakan sepeda di Gili Trawangan, Air dan Meno. Anda bisa melihat hiruk pikuk kehidupan  masyarakat desa di Gili ini. Sambil mengayuh sepeda, nikmati juga pemandangan gunung yang terhampar di depan mata Anda. Kemudian parkir sepeda Anda di pantai, dan bersantailah di pasir putihnya.
Selain sepeda, Anda bisa mencoba berkeliling Gili Air, Trawangan atau Meno dengan menggunakan cidomo. Cidomo adalah sejenis kereta kuda khas Lombok, NTB. Bisa dibilang, belum lengkap datang ke Desa Gili kalau belum naik cidomo. Sayangnya ongkos naik cidomo di ketiga Gili ini naik 250% dari ongkos cidomo di Kota Mataram dari ongkos biasanya yang hanya berkisar Rp 20.000 sekali angkut untuk 4-5 orang naik menjadi Rp 50.000 sekali angkutnya. Namun itu bukan  menjadi masalah jika anda menginginkan sensasi lain saat berwisata di Pulau Lombok.
 this is it ---> CidombretTT

fun bike

4.    Belanja Oleh-oleh dan Wisata Kuliner di Kota MAtaram
Waktu pulang pun tiba, tempat yang asyik untuk membeli oleh-oleh ada di Kota Mataram. Selain pilihan barang lebih banyak jenisnya, Anda juga bisa mendapatkan harga yang lebih murah.
Ada banyak tempat penjualan suvenir yang bisa Anda pilih, salah satunya adalah Pasar Mataram. Masuk dan temukan aneka songket atau kain tenun ikat khas NTB. Cocok untuk oleh-oleh kerabat di kota asal. Ada Juga Toko Phoenix yang menjual beragam jenis makanan khas Lombok mulai dari dodol rumput laut, mete ataupun jenis kacang-kacangan lain dengan berbagai rasa.
kalo liat postingan dibawah ini jangan ngiler yaa.., cekidot :))
PLECING khas Lombok yang nendang abisssss pedesnya

 sate Buaya.., eh BULAYAK maksudnya ^o^

 ini nih, maskotnya kuliner, sate rembiga

 kalo poto dibawah ini, oleh-oleh khas Lombok yang bisa dibeli di Toko Phoenix, di Lombok barat (Promosi kaliiiii)
 dodol rumput laut

kacang  mete
 dan masih banyak oleh-oleh lain yang kalo potonya dipajang diblog malah kayak pameran makanan ntar, saking banyaknya. hehehe
TERTARIK????? ^^

peer

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tips Kerja Praktek Universitas Berencana

WARNING!!!  isi tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis dan didukung survei terhadap sahabat-sahabat terdekat penulis yang juga mahasiswa perencanaan wilayah dan kota baik UB ataupun campus2 tetangganya :D. Tulisan ini dibuat dengan unsur kesengajaan dan bukan fiktif semata. Tulisan ini diperuntukkan bagi Anda(mahasiswa perencanaan) yang akan menempuh masa kerja praktek, praktek kuliah lapangan dan sejenisnya.
Tips-tips Kerja Praktek Mahasiswa PWK yang diberikan penulis, yaitu:
Pilihlah
1. Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek di tempat Anda terbiasa melakukan *proyekan. (Berlaku bagi mahasiswa yang terbiasa melakukan proyekan). 
Akan lebih baik lagi apabila Direktur Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek Anda telah mengenal Anda. Karena instansi kerja praktek dan/atau pembimbing yang telah mengenal Anda akan lebih memahami kemampuan Anda dalam melaksanakan tugas proyek.
2. Direktur instansi kerja praktek yang 'sesuku' dengan Anda.
*Hal ini terkadang penting bagi Anda yang tidak hanya mengharapkan ilmu tapi juga mengharapkan gaji/royalti. Karena orang 'sesuku' tak jarang biasanya lebih loyal. :))
3. Instansi kerja praktek berupa CV atau PT dari konsultan perencana dan telah terdaftar sebagai anggota Ikatan  Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo).
Hal ini berlaku bagi Anda yang ingin lebih terlibat dalam proyek dan menghindari rutinitas untuk berada di kantor sepanjang hari. Tak hanya itu, instansi kerja praktek yang telah terdaftar sebagai anggota Inkindo akan lebih terjamin dalam profesionalitas untuk melakukan praktek-praktek konsultasi.

Hindari Memilih:
1.  Instansi Pemerintahan
Sebagaimana poin ke 3 diatas. Hal ini berlaku bagi Anda yang ingin lebih terlibat dalam proyek dan menghindari rutinitas untuk berada di kantor sepanjang hari. Melakukan kerja praktek di instansi pemerintahan tak jarang akan menuntut Anda untuk berada di kantor sepanjang hari dan arahan kerja praktek yang diberikan oleh kampus pun tak jarang akan diabaikan.
Anda tentunya akan lebih mendapatkan manfaat apabila terlibat dalam kegiatan perencanaan dan bukan sebagai tukang fotokopi, pembuat kopi, tukang ketik, supir dan sejenisnya (^o^) di instansi kerja praktek Anda.
2. Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek yang memiliki 'catatan' tidak baik.
Hal ini dapat Anda ketahui dengan menanyakan pada teman-teman Anda yang telah melakukan kerja praktek. Adapun 'catatan' tidak baik yang umumnya diberikan oleh mahasiswa kerja praktek pada instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek diantaranya:
a. Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek tidak sesuai arahan yang diberikan kampus dalam membimbing mahasiswa yang melakukan kerja praktek di instansi mereka.
b. Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek memaksakan mahasiswa melakukan kerja diluar jam kerja pada umumnya, atau diluar kemampuan mahasiswa perencana.
c. Instansi kerja praktek dan/atau pembimbing kerja praktek tidak memberikan penilaian sesuai dengan kerja keras yang telah dilakukan mahasiswa dalam melakukan kerja praktek.

Hal lainnya:
1. Harap dipikirkan dengan baik apabila Anda mendapat tawaran untuk melanjutkan kerja praktek diluar arahan waktu yang diberikan oleh pihak kampus karena itu artinya Anda harus bersikap profesional dalam membagi waktu melaksanakan 'kerja praktek lanjutan' dan kegiatan perkuliahan. Hal ini penting, mengingat semester-semester akhir setelah Anda melakukan kerja praktek, Anda akan dihadapkan pada awal penyusunan Tugas Akhir atau Skripsi sehingga wajib bagi Anda untuk mengusahakan 'kerja praktek lanjutan' Anda tidak sampai mengganggu kegiatan perkuliahan Anda ataupun sebaliknya.
2. Segera selesaikan keperluan administrasi dengan pihak instansi kerja praktek setelah kerja praktek selesai. Hal ini untuk mempermudah Anda dalam meyusun laporan kerja praktek.

selamat kerja praktek teman-teman....
jangan lupa kalo udah, segera bikin laporannya dan siapin uang buat ngeprintnya yaaa... :D

 2 SKS yang bikin bangkrut

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OSPEK part 3


Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ospek atau proses pembinaan (kami lebih suka menyebutnya proses pembinaan) mahasiswa baru itu sudah menjadi tradisi di Fakultas Teknik. Jadi tidak ada kata wajib atau tidak wajib bagi mahasiswa Teknik untuk berpartisipasi dalam proses pembinaan ini, yang baru maupun yang lama. Bahkan civitas akademika pun, dari Dekan hingga Satpam sampai alumni, baik secara langsung atau pun tidak langsung, ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Begitulah tradisi, eksis tapi susah dijelaskan keberadaannya. Positif atau negatif itu tergantung sudut pandang. Baik atau buruk itu tergantung niat. Toh siapa yang bisa menebak niat sesorang, apalagi orang banyak.
Karena memang sudah menjadi tradisi, selain proses perkuliahan, proses pembinaan lah yang paling menyita perhatian Keluarga Besar Mahasiswa Teknik. Ketika semester ganjil, pelaksanaan proses pembinaan yang menyita banyak perhatian sedangkan ketika semester genap, persiapan proses pembinaan lah yang menyita banyak perhatian. Awalnya saya mengira proses pembinaan itu suatu hal yang sederhana. Jika sebagai peserta, anda datang lalu dimarah, sedangkan jika bertindak sebagai panitia, anda datang lalu marah-marah. Sederhana sekali, bukan? Pendapat saya memang ada benarnya tapi sepertinya terlalu banyak kelirunya.
Yang saya rasakan, proses pembinaan justru lebih terasa ketika sudah manjadi panitia dibanding ketika menjadi peserta. Ketika menjadi peserta, saya masih ingat kata-kata salah satu senior.
“Proses pembinaan itu proses yang sangat panjang, ospek yang satu semester ini hanya awal saja, jika kalian ingin mengerti, ikuti terus proses pembinaan ini bahkan sampai kalian lulus dari kampus ini, dan proses pembinaan di dalam kampus ini pun hanyalah awal, sebagai bagian dari pembinaan dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat nantinya.”
 “Kalau sekarang dalam pikiran kalian banyak berseliweran pertanyaan kenapa begini kenapa begitu, itu wajar, ibarat membaca buku, kalian baru membaca pendahuluannya saja, pendahuluan yang memang sangat provokatif, sengaja dibuat provokatif, dan kami tidak akan pernah memberi jawabannya sekarang atau pun nanti, karena kami sendiri masih termasuk dalam proses pembinaan, jangan kira hanya kalian saja yang dibina.”
“Bacalah buku itu sampai selesai, baca dengan teliti, baca berulang-ulang lalu simpulkan sendiri jawabannya.”
Saya cuma bisa mengangguk-angggukan kepala antara mengerti dan tidak mengerti.
Dan entah karena sudah tradisi atau karena malas pulang kampung yang terlalu jauh atau juga karena teringat kata-kata senior itu, saya merasa tertarik untuk melanjutkan membaca ‘buku’ itu. Persiapan proses pembinaan ternyata memakan waktu yang tidak sedikit. Diawali dengan pembentukan SC (Screening Committee) yang terdiri dari ketua tiap-tiap angkatan aktif yang dianggap bisa menyalurkan aspirasi angkatan masing-masing dan beberapa orang yang diangggap punya kompetensi. Angkatan aktif disini terdiri dari tiga angkatan termuda. Tugas utamanya yaitu menyusun konsep proses pembinaan dengan acuan utama yaitu konsep edisi tahun terakhir yang bisa jadi ada perubahan baik perubahan kecil maupun perubahan yang benar-benar signifikan sesuai dengan kondisi terkini. Bagi orang-orang yang terpilih menjadi anggota SC, tugas ini terasa sangat berat karena memang bersamaan dengan masa sibuk minggu-minggu akhir perkuliahan. Mereka harus pintar membagi waktu antara persiapan ujian, menyelesaikan tugas besar, menulis laporan juga rapat-rapat yang membosankan dan bertele-tele, dan juga pacaran.
Hampir setiap hari rapat penyusunan konsep diadakan, dimana saja, juga tidak mengenal waktu. Di dalam kampus maupun di warung-warung sekitar kampus. Seperti yang sudah saya sampaikan, orang-orang di seputaran kampus pun sudah maklum dengan keadaan ini. Seisi kost pun tidak pernah bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini saya sangat jarang pulang ke kost. Kalau pun pulang, paling-paling mandi dan ganti pakaian lalu kembali lagi ke kampus. Kalaupun bertanya, nada pertanyaan mereka lebih merupakan penyataan, “pasti sibuk persiapan ospek, ya?”
Rapat pun berjalan sangat bertele-tele dan membosankan. Berisi debat dan adu argument yang benar-benar panjang. Wajar. Ya karena konsep yang disusun itu nantinya sebagai hukum utama dan pertama yang dipakai dalam pelaksanaan proses pembinaan. Proses pembinaan manusia, bukan hewan atau benda mati. Jadi harus benar-benar hati-hati. “Ini menyangkut anak kesayangannya orang lho,” begitu kata-kata yang sering terdengar jika ada yang mulai mengeluh tentang betapa bertele-telenya proses penyusunan konsep ini.
Jika penyusunan konsep itu berakhir, bukan berarti berakhir tugas mereka. Masih ada sharing konsep dengan senior. Istilahnya memang sharing konsep tapi pada kenyataannya tidak lebih dari pembantaian yang dilakukan oleh senior. Anggota SC sebisa mungkin bertahan dengan konsep yang sudah disusun, harus pintar-pintar berbicara jika tidak ingin konsep itu diobrak-abrik oleh senior. Tidak mampu bertahan berarti revisi. Revisi berarti rapat yang bertele-tele. Oleh karena itu, bagi SC, kata sharing itu terdengar sangat mengerikan. Entah kenapa, senior yang dalam kehidupan sehari-hari begitu ramah dan bersahabat berubah menjadi sangat garang ketika diadakan sharing konsep. Segala bentuk jamuan yang diberikan pun tidak mampu menutup mulut mereka. Ya lagi-lagi alasannya karena ini proses pembinaan manusia, bukan hewan atau benda mati yang bisa dibentuk semau kita, harus benar-benar hati-hati. “Ini menyangkut anak kesayangan orang lho.”
Seandainya konsep bisa dipertahankan maka SC pun bisa bernapas lega. Itu artinya tugas mereka berakhir, rapat yang melelahkan selesai sudah. Konsep yang telah disusun pun diserahkan kepada OC (Organizing Committee) sebagai panitia pelaksana proses pembinaan. Sekarang berganti OC yang super sibuk, sibuk menerjemahkan konsep ke dalam teknis. OC harus benar-benar paham dengan konsep. Biasanya beberapa anggota SC akan memegang peran penting dalam struktur OC, setidaknya koordinator bidang acara dapat dipastikan dari anggota SC. Memang bidang acara bisa dibilang merupakan tulang punggung dari pelaksanaan proses pembinaan itu sendiri. Bidang yang diisi oleh orang-orang yang nantinya akan dianggap musuh utama oleh peserta proses pembinaan, bidang yang paling gondrong. Yang berisi orang-orang yang memerankan peran antagonis, muka ekspresif, minim senyuman. Bad guys istilah tidak resminya.
Salah satu resiko berambut gondrong ya bakal masuk bidang ini. Mau tidak mau, rela atau terpaksa. Toh rela dan terpaksa itu pada lahirnya tipis bedanya. Cuma Tuhan yang tahu seseorang itu rela atau terpaksa. Kita bisa saja mengatakan rela padahal sebenarnya terpaksa atau juga sebaliknya. Hati orang siapa yang tahu. Dan saya entah rela atau terpaksa, saya juga tidak tahu, yang jelas saya memiliki rambut yang berlebih, akhirnya saya masuk bidang ini. Memang tidak ada ketentuan tertulis untuk masalah ini, tidak harus berambut panjang untuk masuk bidang ini. Namun jika melihat pola dan kebiasaannya maka hal tersebut bisa jadi faktor penting.
Ada hal buruk sekaligus baiknya memasuki bidang ini. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, masuk bidang ini artinya harus siap-siap memerankan peran antagonis. Harus siap jadi bad guys. Harus rela dibenci dan dicaci oleh peserta proses pembinaan. Harus rela memasang muka ekspresif yang benar-benar minim senyuman ketika berhadapan dengan peserta. Jadinya harus rela disangka baru putus cinta. Dan itu selama satu semester. Benar-benar peran yang berat. Nah baiknya orang-orang bidang ini bakal jadi orang terkenal. Tapi entah menjadi terkenal itu hal baik atau tidak. Apalagi terkenal karena hal yang dianggap tidak baik. Tapi memang segala sesuatu itu butuh keseimbangan agar bisa berjalan dengan baik.
Dan bisa dibilang evaluasi adalah inti dari bidang acara itu sendiri, bahkan bisa dibilang titik penting dari proses pembinaan itu. Sangat mempengaruhi alur proses pembinaan. Dalam keadaan tertekan kita bisa dengan gamblang melihat sifat asli seseorang, ya sifat dari peserta proses pembinaan itu, juga sifat dari panitia sebagai pelaksana. Apakah dalam keadaan tertekan itu peserta masih bisa berpikir jernih, bersikap dewasa, cepat dan tepat mengambil keputusan atau bahkan sebaliknya. Apakah dalam kondisi tertekan kita hanya memikirkan diri sendiri atau tetap bisa memikirkan sekitarnya. Apakah dalam keadaan tertekan  kita bisa tetap mengatasi masalah atau bahkan lari dari masalah itu. Dalam evaluasi kita juga bisa melihat apakah nilai-nilai ideal yang telah disampaikan sudah mulai tertanam atau tidak.
Teknis disusun dengan sangat detail. Harus detail. Beserta rencana-rencana cadangan jika rencana utama tidak bisa benjalan dengan baik. Bahkan ternyata pola pergerakan evaluator dalam acara evaluasi pun sudah ada pakemnya beserta beberapa variasinya beserta beberapa kode sandi yang harus benar-benar dilatih dan dihapalkan. Karena memang terkadang acara evaluasi bisa sewaktu-waktu berubah sesuai dengan kondisi fisik maupun psikologis peserta maupun panitia. Misalnya rencana evaluasi dengan level high bisa saja berubah menjadi low bahkan acara evaluasi bisa berubah menjadi motivasi jika melihat kondisi fisik maupun psikologis peserta yang sudah benar-benar down.
Dan ternyata evaluasi tidak hanya untuk peserta, panitia pun ada evaluasi 2 kali sehari. Walaupun memang tidak seperti evaluasi peserta yang dominan satu arah, namun tidak jarang evaluasi panitia pun berlangsung sangat panas, benar-benar panas. Yang bisa mengancam keutuhan panitia itu sendiri yang pastinya juga berpengaruh pada kelancaran proses pembinaan. Dan hal ini sering terjadi. Jadi memang benar, proses pembinaan itu bukan hanya untuk peserta.
Dalam pelaksanaan proses pembinaan tidak bisa dipungkiri terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tindak kekerasan. Hal-hal tersebut sangat dimungkinkan untuk terjadi. Karena memang kegiatan ini menyangkut orang banyak yang mungkin dengan maksud yang berbeda-beda. Bisa positif dan juga negatif. Bisa jadi memang benar-benar ingin melaksanakan proses pembinaan sesuai dengan konsep yang telah disepakati atau memang cuma sebagai ajang balas dendam.
Untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan maka dari awal hal ini menjadi konsentrasi tersendiri. Orang-orang yang dipilih untuk posisi-posisi yang strategis harus benar-benar punya kompetensi dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan prosen pembinaan sesuai dengan apa yang disepakati. Tapi hal tersebut tentunya tidak cukup. Orang bisa saja berubah-ubah apalagi dalam kondisi yang penuh tekanan. Oleh karena itu pengawasan dilakukan dengan sangat ketat. Setiap kegiatan memiliki penanggung jawab yang terus diganti agar tidak menimbulkan rasa bosan yang tentunya akan menurunkan tingkat keawasan dalam mengawasi jalannya acara. Dalam satu kegiatan ada 2 penanggung jawab, penanggung jawab acara yang mengawasi jalannya acara agar tidak melenceng dari konsep dan penanggung jawab ruang yang mengawasi gerak-gerik peserta maupun panitia agar tidak keluar dari peraturan yang sudah ditentukan. Sangsinya pun beragam dari peringatan ringan, pemberhentian sementara hingga pemberhentian tetap.
Memang susah untuk menjaga konsistensi dalam keadaan fisik maupun psikologis yang benar-benar sudah menurun yang kemudian berhadapan dengan peserta yang datang dari berbagai latar belakang. Dan memang benar, proses pembinaan itu tidak hanya untuk peserta saja tapi juga untuk panitia, bahkan bisa dikatakan proses pembinaan itu baru terasa berat ketika menjadi panitia.
Ketika menjadi peserta saya sering membayangkan betapa enaknya menjadi panitia. Penuh kuasa dan tidak pernah salah. Idiom “panitia selalu benar” memang cocok untuk peserta. Tapi kenyataannya tidak juga. Buktinya seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya pun pernah mendapatkan izin untuk ‘istirahat’, penghalusan dari hukuman atas kesalahan yang saya lakukan. Ketika menjadi peserta tekanan hanya datang dari panitia. Namun ketika menjadi panitia tekanan datang dari segala arah, ya peserta itu sendiri, ya dari organisasi, ya dari senior, juga dari birokrat kampus. Kesalahan sekecil apapun bisa menjadi masalah besar karena memang ini pembinaan manusia, bukan hewan atau benda mati. Jadi menurut saya, idiom yang paling tepat itu adalah “panitia harus benar”. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun, “ingat, ini menyangkut anak kesayangan orang.”
Lalu ada pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang-orang di luar Teknik, “apakah proses pembinaan di Teknik itu keras?” Ya kami akui memang keras. Tapi keras itu juga relatif. Dan keras bukan berarti mengandung unsur kekerasan. Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan tidak perlu saya jelaskan panjang lebar makna dari keras. Saya cukup memakai makna yang sudah menjadi konsesi mayoritas untuk menjelaskan arti keras itu. Kurang lebih maknanya seperti anda mengatakan bahwa sejak kecil anda dididik oleh orang tua anda dengan keras. Ya maknanya kurang lebih seperti itu. Tujuannya pun kurang lebih sama halnya dengan tujuan orang tua anda mendidik anda dengan keras.
Dan saya juga mengakui memang proses pembinaan di Teknik mengundang banyak tanda tanya yang cenderung negatif. Karena memang proses pembinaan itu berlangsung sangat tertutup. Dalam cerita ini pun saya tidak bercerita mengenai hal-hal yang terlalu substantif. Bahkan selama proses pembinaan berlangsung sebisa mungkin kami memastikan area proses pembinaan itu bersih dari segala sesuatu yang kami anggap gangguan, baik dari luar maupun dari dalam. Kami cuma berusaha menjaga segala sesuatunya berjalan dengan baik. Ibarat membuat tempe atau tape, kami tidak ingin ada unsur dari luar yang bisa membuat tempe itu busuk atau tape menjadi masam. Memang terkesan arogan dan posesif.
Dan secara singkat, bisa dikatakan tujuan akhir dari proses pembinaan itu adalah menjadikan Teknik sebagai keluarga besar yang satu dan solid. Tidak terpecah belah dan tidak terkotak-kotak oleh kepentingan golongan-golongan tertentu. Benar-benar menjiwai keilmuannya yang bebas nilai kecuali nilai kebenaran itu sendiri.
Jadi jangan merasa heran jika di kampus Teknik anda tidak akan menemukan satu pun organisasi kemahasiswaan ekstra kampus yang bisa eksis secara organisasi. Kami cuma tidak ingin keluarga besar kami terkotak-kotak. Namun bukan berarti mahasiswa Teknik tidak boleh masuk organisasi tersebut. Silakan mahasiswa Teknik masuk ke dalam organisasi tersebut namun secara personal, sebagai pribadi yang merdeka yang berhak memilih yang terbaik bagi dirinya, namun jangan pernah membawa nama Teknik. Kami tahu kok organisasi-organisasi itu, diakui atau dibantah, merupakan underbow-nya partai politik. Kami tidak ingin keluarga besar Teknik tercerai berai hanya karena masalah warna dan bendera. Kami sadar bahwa teknik itu punya potensi besar untuk dibawa ke arah itu. Dan kami juga tahu sejak dahulu, organisasi-organisasi tersebut berusaha dengan banyak cara untuk bisa melebarkan sayapnya ke teknik. Teknik itu potensi pasarnya memang besar dan menggiurkan, kualitas maupun kuantitas. Kami tidak mau rumah kami ini, Teknik, dijadikan lapangan untuk berpolitik praktis yang dapat memecah belah kesatuan Teknik itu sendiri.
Proses pembinaan selama ini memang dijadikan benteng yang pertama dan utama untuk menjaga keutuhan teknik dari hal-hal yang dapat memecah belah kesatuan Teknik. Sehingga sekali lagi maaf kalau selama ini mungkin kami terlihat bersikap arogan, posesif, mungkin fanatik, menjadikan lahan kami bukan lahan yang subur untuk tumbuhnya ideologi anda. Bukan maksud kami untuk bersikap seperti itu. Ada hal yang tetap harus kami jaga sebaik-baiknya. Dan ada baiknya untuk hal ini kita saling menghargai dan menghormati adat dan kebiasaan masing-masing. Kami menghargai dan menghormati anda dan anda seyogyanya juga menghargai dan menghormati adat dan kebiasaan kami. Saya rasa yang seperti itu merupakan jalan yang paling adil.
Beberapa tahun terakhir memang tradisi ini sudah mendekati kepunahan, bahkan bisa dikatakan sudah punah. Entah disengaja atau memang karena seleksi alam. Ya memang segala sesuatu yang berawal pasti akan berakhir. Bukan kah memang begitu hukumnya. Selamat atas kemenangan anda-anda yang selama ini berharap tradisi ini berakhir. Tentunya butuh perjuangan yang sangat lama dan melelahkan, patut diacungi jempol. Saya rasa di tahun-tahun mendatang anda sudah bisa membangun idelogi anda di rumah kami tanpa ada gangguan yang berarti. Sekali lagi selamat.
            Yang jelas, dari dulu, kami sangat yakin seyakin-yakinnya. Ketika semakin banyak orang Teknik yang mulai berpolitik maka akan semakin banyak sekolah yang roboh, rumah sakit yang roboh, jembatan yang roboh, gedung-gedung yang roboh, namun saya berharap semoga Negara ini tetap berdiri kokoh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS